Pidato Pak Kades: Ini Hari untuk Bumi
Hari yang panas disusul terpaan angin kemarau membikin orang-orang terlihat basah. Basah oleh keringat. Saat yang sama, pada hari itu, 22 April, merupakan Peringatan Hari Bumi. Pak Kades yang kala itu sedang melihat-lihat kalender sambil menyeka-nyeka leher dengan belacu kekuningan seketika menepuk dahinya.
“Duh, Biyung! Sekarang lak Hari Bumi, tho!â€
Staff-staff yang berada di ruangan sambil kipas-kipas melongok heran.
“Ada apa dengan Hari Bumi, Pak?†tanya Marni, sekretarisnya.
“Yo ngunu! Harus diperingati, tho!†serunya menggebu. Seketika belacunya dimasukkan ke saku lalu menyongsong ambang pintu dengan map berisikan kertas-kertas kosong dan pulpen.
“Hendak kemana, Pak?†Marni tergopoh-gopoh mengikuti atasannya.
“Saya hendak membikin pidato, Mar! Buat Hari Bumi, saya harus pidato di Bale Deso. Kamu, kamu, kasih tau warga , yo!†ia menunjuk staff-staffnya yang masih kipas-kipas kepanasan. Mereka mengangguk dengan lenguhan sapi kemudian mulai melangkah dengan berat. Agaknya malas beraktifitas di hari panas begini.
“Kahn kemarin sudah Pak, pas Hari Kartini†Sapiadi terlihat kurang sepakat.
“Ya bikin lagi,â€
“Nanti warga ndak mau datang,†Sukri juga menyangsikan.
“Ya dibujuk biar datang,†Pak Kades mengeksekusi.
“Pak, kapan bikin pidatonya?†Marni sudah tidak sabar.
“Yo saiki!! Sekarang, tho!†Arep Kapan??



