A Memoir of Nur Kamim
Nur Kamim, adalah sahabat saya semenjak duduk di kelas sepuluh SMA. Dulunya kami menjadi penghuni X-7, kelas paling gokil karena banyak siswa tidak naik kelas yang masih jadi memedhi disana. Waktu itu saya sempat khawatir, jangan-jangan saya bisa makin nakal, ikut-ikutan tidak naik kelas, dan menjadi biang bolos…ternyata kenyataan tidak seperti itu. Di kelas X-7 saya menemukan sahabat-sahabat yang bisa membuat tertawa: Indra Pesek, Tito Item, Jay, Hiprita Chiput, Vivi Gembul, Elisa Lemot, Dhita, Chusnul centil, My Sweet Sista- Keppy dan tentu saja, Nur kamim alias Kimi.
Awalnya, nama Kimi saya anugerahkan padanya karena Kamim adalah nama yang aneh menurut saya, alhasil, saya mencomot nama karakter dalam salah satu sinetron yang sedang beken saat itu. Jadilah ia dipanggil Kimi sehari-harinya.
Ketika naik kelas ke kelas XI IPA 2, ternyata, saya sekelas lagi dengan Kimi. Jadilah kami semakin akrab. Dia sering kerumah saya, kami juga biasa berkegiatan bareng: jadi tim mading, koordinator SKI (ROHIS), dia juga pernah bergabung menjadi anggota Osis dan sempat beken, banyak pengikutnya, lalu bersibuk-sibuk mengurusi majalah sekolah: Kimi, Itoer dan saya.
Sialnya, (more…)






dai itu lusuh, gak keramut, bisa dilihat cat temboknya yang sudah usang dengan jamur disana-sini merusak pemandangan. Tapi, senyuman lebar Maut— begitu kami memanggilnya, yah, tanpa embel-embel “Pak†atau “Wakâ€. Hanya Maut— seakan menjadi sihir tersendiri, menarik mahasiswa yang doyan kopi untuk nongkrong di kedai tersebut. Meski hanya menyediakan sebuah meja kayu dengan bangku agak lapuk yang bisa rusak jika digoyang-duyu, kedai itu tetep rame, tetep unik. Apalagi sistem utang masih digalakkan. Tak ayal, Kedai Maut pun layak jadi jujugan.