A Memoir of Nur Kamim

Nur Kamim, adalah sahabat saya semenjak duduk di kelas sepuluh SMA. Dulunya kami menjadi penghuni X-7, kelas paling gokil karena banyak siswa tidak naik kelas yang masih jadi memedhi disana. Waktu itu saya sempat khawatir, jangan-jangan saya bisa makin nakal, ikut-ikutan tidak naik kelas, dan menjadi biang bolos…ternyata kenyataan tidak seperti itu. Di kelas X-7 saya menemukan sahabat-sahabat yang bisa membuat tertawa: Indra Pesek, Tito Item, Jay, Hiprita Chiput, Vivi Gembul, Elisa Lemot, Dhita, Chusnul centil, My Sweet Sista- Keppy dan tentu saja, Nur kamim alias Kimi.

Awalnya, nama Kimi saya anugerahkan padanya karena Kamim adalah nama yang aneh menurut saya, alhasil, saya mencomot nama karakter dalam salah satu sinetron yang sedang beken saat itu. Jadilah ia dipanggil Kimi sehari-harinya.

Ketika naik kelas ke kelas XI IPA 2, ternyata, saya sekelas lagi dengan Kimi. Jadilah kami semakin akrab. Dia sering kerumah saya, kami juga biasa berkegiatan bareng: jadi tim mading, koordinator SKI (ROHIS), dia juga pernah bergabung menjadi anggota Osis dan sempat beken, banyak pengikutnya, lalu bersibuk-sibuk mengurusi majalah sekolah: Kimi, Itoer dan saya.

Sialnya, (more…)

Read Users' Comments (23)

Workshop Jurnalistik dan Peserta Terbaik

Senangnya sudah bisa menulis setelah sekian lama hiatus…Maaf ya ReBlog (Rekan Blogger)  sekalian, shei  baru bisa menyapa setelah sekian lama disibukkan  oleh tugas kuliah  berikut hosting yang dodol **sigh**
Anyway, Shei mau sharing tentang kegiatan terakhir ini,yakni Workshop Dasar Jurnalistik yang diadain bareng KOMPAS.

Seru banget! Pelatihan selama 4  hari yang  diadakan oleh Parmagz ** Pers Kampus Paramadina** kerjasama bareng Kompas itu benar-benar membuat wawasan mengenai jurnalisme meningkat pesat. Shei dkk yang awalnya tak tahu menahu bagaimana membikin tulisan  yang benar, berikut mengedit **jadi editor juga nih skenarionya** ternyata sangat menyenangkan!
Teruuusss??

Read Users' Comments (11)

Film Ketika Cinta Bertasbih

Disclaimer: Postingan ini hanya review, lebih enak kalo nonton sendiri lo :)

Scene dibuka dengan lansekap-lansekap mesir aseli :P, memanjakan mata, dan agak lama untuk sebuah movie-beginning menurut saya, karena tanpa dialog. Untung pemandangan yang di-shoot memang worth it, jadi terbayar sudah.

Then the story goes..

Terkisah seorang Azzam (M. Kholidi Asadil Alam), mahasiswa asal Indonesia yang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo, Mesir selama Sembilan tahun karena memang harus kuliah sambil kerja sebagai penjual tempe dan basso untuk menghidupi keluarganya di Indonesia. Azzam tinggal bersama rekan-rekannya di flat yang juga sesama mahasiswa Indonesia. Semuanya berjumlah enam orang.

Eliana (Alice Norin), anak duta besar KBRI di Saudi Arabia dekat dengan Azzam dkk. Sekedar untuk urusan bisnis, biasanya kolega KBRI memesan makanan khas Indonesia untuk acara-acara khusus pada , tapi kedekatan mereka sepertinya lebih dari sekedar rekan bisnis, Eliana bahkan sempat akan memberi French-Kiss pada Azzam atas kerjanya yang bagus, namun tentu saja Azzam menolak, Eliana menjadi tersinggung dan naik pitam. Setelah mendapat penjelasan dari Azzam, Eliana akhirnya mengerti, semuanya juga untuk menjaga kesucian keduanya. Mereka belum halal satu sama lain. Nggak Halal? Emang NggakAda cap-nya ya??

Read Users' Comments (61)

Kedai Kopi Maut

Sejenak, mari saya ajak anda sekalian mojok sebentar, mampir ke Kedai Kopi Maut. Letaknya di dalam kampus Paramadina, jakarta. **kalau ngga tau,, katrok deh…. :P**

Kedai itu lusuh, gak keramut, bisa dilihat cat temboknya yang sudah usang dengan jamur disana-sini merusak pemandangan. Tapi, senyuman lebar Maut— begitu kami memanggilnya, yah, tanpa embel-embel “Pak” atau “Wak”. Hanya Maut— seakan menjadi sihir tersendiri, menarik mahasiswa yang doyan kopi untuk nongkrong di kedai tersebut. Meski hanya menyediakan sebuah meja kayu dengan bangku agak lapuk yang bisa rusak jika digoyang-duyu, kedai itu tetep rame, tetep unik. Apalagi sistem utang masih digalakkan. Tak ayal, Kedai Maut pun layak jadi jujugan.

Sebenarnya banyak hal yang bisa membahasakan ke-paramadina-an. Namun, tentu tidak lengkap jika tanpa menyebut ke-maut-an. Usut-punya-usut, ternyata Kedai kopi Maut ini beumur lebih tua dari kampus paramadina! Jadi, kedai itu sudah ada sebelum Cak Nur menggagas kampus! Bayangkan betapa supernya kedai Maut itu! Jampe-jampe apalah yang dipakai hingga kedai itu masih tetap berdiri, meski hanya menyediakan menu simpel namun berarti: Kopi dan Mie. Ada apa lagi?

Read Users' Comments (35)

 Page 3 of 26 « 1  2  3  4  5 » ...  Last »