Laskar Pelangi: Haru Biru Anak Belitong

SPOILER ALERT: Khusus bagi yang udah baca Novelnya, please…Let’s Review!
Place and Date: Planet Hollywood, Jakarta, 26 Sept’08
Kisah sepuluh anak belitong yang berhasil membuktikan bahwa memiliki cita-cita demi menempuh pendidikan lebih penting ketimbang materi ini sungguh menginspirasi banyak umat. Film yang disadur dari Novel Mega Best Seller bertajuk sama -Laskar Pelangi- ini berhasil menyedot atensi publik dan tentu saja dinanti-natikan kehadirannya oleh para sineas-sineas tanah air karena dianggap mendobrak norma dunia perfilman Indonesia yang hanya menyiarkan film-film rubbish bertema esek-esek belakangan ini.
Riri Riza – sang sutradara- cukup piawai menggambarkan deskripsi-deskripsi cantik Andrea Hirata selaku author novel tersebut secara cerdas dan gamblang. Mengingat durasi film terbatas, akibatnya banyak adegan dalam film yang tidak sesuai dengan novelnya. Tapi sense yang disajikan dalam film Laskar Pelangi cukup menghibur dan menyenangkan penonton, terutama casting pemain-pemain utamanya, Lintang, Mahar, si Ikal dan para anggota Laskar Pelangi lainnya yang persis aslinya: lugu tapi cerdas, miskin namun banyak mimpi dan solidaritas antaranggota Laskar Pelangi itu sendiri untuk tetap menempuh kewajiban belajar daripada hanya menjadi kuli kopra maupun nelayan.
Mungkin banyak diantara kita yang bertanya-tanya, ” Apa hebatnya sih Laskar Pelangi? kok sampe segitunyaaaaaa”
dan saia akan menjawab dengan cukup simpel,” karena Laskar Pelangi is just the way it is. lugas, cerdas dan tidak direka-reka sampai bikin eneg seperti film kebanyakan.”
Sayangnya,
memang tak ada gading yang tak retak..
Film Laskar Pelangi yang saia tonton di Planet Hollywod bareng temen-temen DKM (Dewan Keluarga Mesjid) Universitas Paramadina ini juga membuat saia sedikit kecewa.
Eksploitasi pemeran berlebih pada Lintang, Mahar dan Ikal membuat tokoh-tokoh lain tertutup.
Atmosfir percintaan antara si Ikal dengan Njoo Xian Ling (A Ling) juga tidak terlalu terasa, kurang romantis. Padahal di novelnya, mereka banyak berkomunikasi secara diam-diam, saling kirim surat dan anehnya…
Di film, digambarkan A Ling akhirnya menitipkan sesuatu pada Ikal lewat A kiong- sepupunya- dan itu hanya KOTAK bergambar menara Eifel dengan Isi macam-macam: Bunga, Pita, Kotak kapur.
Kotak yang tersebut tadi – mungkin- mengimplisitkan pesan supaya Ikal mengejarnya ke Paris. Tidak disinggung sama sekali masalah Edensor, Inggris!
Kecewa juga, karena hal ini mengaitkan erat akan eksisnya novel ketiga berjudul sama: Edensor.
Memang pada akhirnya Ikal bertemu dengan sahabatnya, Lintang dan bercerita bahwa ia hendak melanjutkan studi ke Sorbonne, Perancis. Dari sini dapat saia tarik kesimpulan bahwa, kotak itu dihubung-hubungkan dengan keberangkatan Ikal ke Prancis seperti mimpinya semenjak kecil dulu.
Hemmm..
Sayang sekali, padahal Edensor cukup menyita perhatian saia dan membuat saia excited ketika meneruskan kontinyuitas cerita sedari novel pertama sampai novel ketiga.
Well,
Apapun, saia tetap mengacungkan empat jempol atas terhidupkannya kembali film bermutu di tanah air ini.
Penampakan di studio Planet Hollywood
klik untuk memperbesar ![]()





wah pengen nonton juga…
nonton aja mas arul..
dijamin gak bosen deh!! ngakak ngakak!!
Duwhhh… bgus tau filmnya…
Kacian bgd tuch si lintang,,, pokoknya haru bgd dewh…
Owh yah met Mudik yoooo…
SaliNg comment di BloGKyu OkaY…
minaL aidzin Wal Faidzin…
wah, jadi pengen liat nih…… katanya sih keren, dari review seorang amatir diatas juga kayaknya agak keren…..
*kabur, takut dilempar semanggi sama shei lala po dipsy….*
@ Vino alias Wewe: haha….dfaemang bagus kok!! iya, komen2an, halaahhh…
Minal Aidzin Wal Faidzin Juga ya….
semoga ALLAH menerima amal ibadah kita, AMIN..
@ Aze: Idiih, dasar kie…
udah sono, liat pilmnya..dijamin gak nyesel!!
^_______^
Masih baru mau nonton…
antri tiketnya panjang euy…
wuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaah…..
laskar pelangi rocksss
Dih.. Pamer tok! Mentang2 kene durung nonton!
Ah emang kalau diliat bakal banyak kekurangannya Shei, soalnya belum tentu juga Sang Pemimpi atau Edensor bakalan difilmkan … Aku udah merasa cukup puas nonton film itu kok
Menurutq film nya uda mewakili inti ceritanya kok..2jam berasal dr 1 buku uda ok.. ^_^
aq da nonton sizt.
well scr keseluruhan not bad lah.
tp mang bener kok.
pa yg di angkat dari novel tak semuanya mbuat qt puas.
mang sih ga se WAHH…. sperti imaginasi qt.
pa lg ada adegan yg aq suka tp ga da d film.
“adegan 4×4″
but from this film,i can see nothing imposible,n where’s the will there’s away.
education is the most important thing.
n aku cinta karya anak bangsa.
@ semuanya: yap! bener banget, karya negri ini yang bagus ya mari kita pertahankan, yang gak mutu mohon sadar diri, hehehe….
piss…
@ keppy: uda punya blog sist?
hehehe…..bentar sizt….
bentar lg aq bkalan jd blogger kok.
see u in blog by blog ya.
sip!!! gitu dunkz! smangat ya!!
ehm,,,, kira-kira ikal nemuin aling gg ya?????
pdhl ud dicari sampe eropa-afrika segala lho….
hm..
nemu ga ya??
uh uh..
baca Maryamah Karpov yuuuk!!!
^_^ bismillah…
Belum nontooooooon.. penuh terus!
Novelnya, keren banget. Takjub. Mengharu biru. Ah.. segala hal-lah. Jadi penasaran pengen liat layar lebarnya.
bismillah juga…
wah, nonton dooonk,s ayang banget dilewatin karena film ini tuh worth-it dibanding film yang laen n_n
wa reviewnya bagus ni, mala keknya lebi bagus dari punyaku, hehehe
o ya mbak met kenal yah…tukeran link yuk sekalian
gw b9t……………
udah
serius akyu kecewa banget ma film ini. kecewa koz ya gak seperti apa yang saya bayangin ketika saya mulai baca novelnya dulu, sampai buku ketiga dan skg buku yang ke empat. Rasanya film ini terlalu dipaksakan. Ku kehilangan momen2 kita mahar dan teman2 ketika melintasi laut mencari mpu bayantula. Pokonya menurut saya Greget dalam Novelnya gak ada sama sekali di Filmnya.
@ buyungupik: Makasih…..iiy, yuk tukeran link deh
@ 9_know: Lo banget?? Hehee..
@ cak anam: Setujuuuu…..saia juga meraskan hal yang sama