Cikajang bikin Kejang

Pemetik Teh GadunganPersiapan hanya memakai jaket olahraga merah dengan celana jeans dilinting rupanya tidak cukup untuk melawan hawa dingin salah satu kecamatan yang terletak di Garut itu. Sebenarnya, Garut tidak sedingin kulkas, namun, kecamatan Cikajang lebih parah dari kulkas, karena tidak untuk membekukan daging. Cikajang merupakan tempat terdingin kesekian yang pernah saya datangi. Biasanya kita cukup menyebutkan ‘kajang’ pada supir angkot putih-biru setelah turun dari terminal Garut. Otomatis, kita akan menjadi salah satu dari penumpang terakhir di angkot tersebut, karena Cikajang memang pemberhentian terakhir dan memakan perjalanan selama sejam. Ongkos yang dikeluarkan juga tidak seberapa, cuma tujuh ribu rupiah. Bus dari Jakarta menuju Garut juga hanya tiga puluh lima ribu rupiah, dan perjalanan ditempuh, normalnya, empat jam. (more…)

Read Users' Comments (6)

Indonesian Movie Award: Selebrasi Minim Prestasi

Indonesian Movie Award (IMA) yang berlangsung di JITEC mangga dua, Jakarta, disiarkan LIVE di RCTI kemarin (05/05). Beberapa judul film yang masuk nominasi IMA 2010 adalah: JERMAL, KING, QUEEN BEE, HARI UNTUK AMANDA, IDENTITAS, JAMILA DAN SANG PRESIDEN, EMAK INGIN NAIK HAJI, MERANTAU, KETIKA CINTA BERTASBIH, SANG PEMIMPI, BUKAN CINTA BIASA, KATA MAAF TERAKHIR, SERIGALA TERAKHIR, dan RUMA MAIDA.
Film-film yang disebutkan diatas sebenarnya memang layak mendapat nominasi dalam IMA 2010. SAyangnya, kategori yang disajikan agaknya kurang mengakomodasi ‘wajah perfilman’ secara umum. Ada 8 pengkategorian yang diberi lapak oleh IMA 2010, diantaranya: PEMERAN UTAMA PRIA TERBAIK yang jatuh pada Tio Pakusadewo (IDENTITAS), PEMERAN UTAMA WANITA TERBAIK yang dianugerahkan pada Aty Kanser (EMAK INGIN NAIK HAJI), PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK dengan Dwi Sasono (WAKIL RAKYAT) sebagai jawaranya, PEMERAN PEMBANTU WANITA TERBAIK jatuh pada Niniek L. Karim (KETIKA CINTA BERTASBIH 2), PENDATANG BARU PRIA TERBAIK dianugerahkan pada Chairil  A. Dalimunthe (JERMAL), PENDATANG BARU WANITA TERBAIK diberikan pada Oki Setiana Dewi (KETIKA CINTA BERTASBIH 1), PASANGAN TERBAIK Vino G. Bastian & Reza Pahlevi (SERIGALA TERAKHIR), dan terakhir, sebagai award khusus untuk SPESIAL AWARDS PEMERAN ANAK-ANAK TERBAIK, diberikan pada Iqbal S. Manurung (JERMAL).
Penghargaan dalam IMA saya nilai sebagai selebrasi yang minim prestasi, betapa tidak…pengkategorian pemenang untuk film hanya ‘terfavorit’, bukan ‘terbaik’. Padahal, penilaian favorit tentu saja salah satu aspek yang dipertimbangkan adalah ‘laku’ atau ‘tidak laku’. Banyak film berbobot yang terkadang terganjal pasar, namun, ketika ditayangkan, ternyata memiliki kedalaman makna, misalnya Opera Jawa. Film ini mengantongi penghargaan dari berbagai negara: nomiinasi Festival Film Internasional Venesia 2006, Festival Film Internasional London 2006 dan Festival Film Internasional Toronto 2006. Di Festival International Film Independent Bruxelles Ke-35 di Brussel, Belgia, 4-9 November 2008, film ini meraih penghargaan tertinggi untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Garin Nugroho), dan Aktris Terbaik (Artika Sari Devi). Tidak heran jika kemudian film-film yang tidak ramah pasar Indonesia kemudian diusung ke negara lain untuk sekedar screening. Bukankah ini mencerminkan budaya konsumtif dan dangkal dalam pengkonsumsian (juga produksi) film Indonesia? Munculnya genre-genre sexy-horor yang sedang booming menjadi acuan bahwa perfilman Indonesia di 2009 sedang buruk. Rilisnya tayangan alternatif seperti Laskar Pelangi, Emak Ingin Naik Haji dan film semacamnya yang masuk pada genre marginal ternyata mendapat apresiasi tersendiri. Dalam IMA, setidaknya saya masih bangga bahwa nominee tidak asal-asalan, saya rasa film-film dan pemeran-pemeran yang masuk nominee memang jempolan. Namun sayang, pengkategorian dalam festival ini perlu diperbanyak dan lebih meningkatkan mutu tiap tahunnya.

Indonesian Movie Award (IMA) berlangsung di JITEC mangga dua, Jakarta, disiarkan LIVE di RCTI kemarin (05/05). Beberapa judul film yang masuk nominasi IMA 2010 adalah: JERMAL, KING, QUEEN BEE, HARI UNTUK AMANDA, IDENTITAS, JAMILA DAN SANG PRESIDEN, EMAK INGIN NAIK HAJI, MERANTAU, KETIKA CINTA BERTASBIH, SANG PEMIMPI, BUKAN CINTA BIASA, KATA MAAF TERAKHIR, SERIGALA TERAKHIR, dan RUMA MAIDA.

Film-film yang disebutkan diatas sebenarnya memang layak mendapat nominasi dalam IMA 2010. SAyangnya, kategori yang disajikan agaknya kurang mengakomodasi ‘wajah perfilman’ secara umum. Ada 8 pengkategorian yang diberi lapak oleh IMA 2010, diantaranya: PEMERAN UTAMA PRIA TERBAIK yang jatuh pada Tio Pakusadewo (IDENTITAS), PEMERAN UTAMA WANITA TERBAIK yang dianugerahkan pada Aty Kanser (EMAK INGIN NAIK HAJI), PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK dengan Dwi Sasono (WAKIL RAKYAT) sebagai jawaranya, PEMERAN PEMBANTU WANITA TERBAIK jatuh pada (more…)

Read Users' Comments (1)

Memandang Kehidupan dari Sisi Lain

“My Name is Salmon, like the fish. First Name, Susie. I was 14 years old when I was murdered.”

Dari narasi tersebut, sudah tentu bahwa ini film berkisah tentang pembunuhan. The Lovely Bones, yang dibesut oleh sutradara Peter Jackson ini diangkat dari novel karya Alice Sebold dengan judul yang sama. Kesan dari film ini memang pembunuhan, namun, alur dan teknik penyutradaraan yang apik membuat film ini tidak terkesan suram. Jackson berhasil membuat penonton  menikmati film hingga akhir, tanpa  fokus terhadap kasus yang menimpa Susie Salmon (Saoirse Ronan). Gadis yang dibunuh oleh tetangganya sendiri dengan sadis. Dari segi alur, The Lovely Bones cenderung lamban dalam mengungkap kasus pembunuhan Susie. Kelambanan ini disisipi oleh efek spesial ala “Blue Horizon” tempat Susie berada, karena ia  tidak sedang di  bumi maupun di surga, sehingga tetap memanjakan penonton.

Selain itu,akting Saoirse Ronan cukup jempolan, sehingga penonton diajak menghayati suasana hatinya yang sedang kebingungan. Trik screenplay yang jenius dengan membuat Susie seolah-olah berhasil lolos dari Mr.Harvey (Stanley Tucci) membuat penonton tidak menyadari bahwa ia telah tewas, sebelum akhirnya Susie menemukan bahwa Mr.Harvey sedang berendam di bath-up dan banyak darah tercecer disekitarnya. Kisah tragis yang dibalut dengan drama ini cukup menyentuh. Terutama mengungkap ketidaklengkapan hidup seorang gadis yang baru beranjak dewasa, bahkan ciuman pun belum pernah dilakukannya.

(more…)

Read Users' Comments (6)

When it rains (people do something for waiting until the rain ended)

People talking, sucking their cigarette and spending their time starring at their computer’s screen just to wait until the rain ended. Mas Islah, one of Walhi’s Campaigner keep talking about the water crisis and alternate energy which can be substituted by water.  Mas Mariyo, the other campaigner was sucking his cigarettes and stealing his friend’s coffee when he ran it out, literally, actually, he’s typing seriously onto his laptop, working on the financial report.  The other man, I didn’t know his name,  chatting solemnly as if he’s a Kabareskrim. I believe he’s about mocking the former Kabareskrim, Susno Duadji.

People keep talking and typing and now, mocking each other. The reason, I believe, still the same, waiting until the rain ended.  Nobody saw other’s face when they’re talking. They keep starring onto their laptop and computer’s screen while throwing jokes about the national affairs, or at least, their pathetic friend who came back home earlier. They deemed that, it supposed to be a silly journey home, wet look, like a jargon of a popular hair gel.  the rain still pouring hard.

when it rains,

They keep talking and typing and mocking each other.

When it rains,

I singing in the rain

Read Users' Comments (1)

 Page 1 of 26  1  2  3  4  5 » ...  Last »